Sepasang Manusia
yang Saling Memberi Luka
Waktu sudah beranjak menuju hari baru. Aku masih menyendiri menahan getaran kangen yang semakin hari semakin subur saja tumbuh di jiwa. Sepertinya kangen tak sungkan-sungkan mengekangku dalam kenangan kita. Malam seperti ini, aku rajin menanam harap pada Tuhan. Termasuk berharap kau mengerti dengan arti diamku.
Ini malam yang kesekian kalinya aku meneguk beberapa gelas air mata sendiri. Jangan tanya mengapa aku begitu, jangan tanya mengapa aku beku, jangan tanya mengapa aku menjelma batu. Kau sudah tahu itu.
Dari sekian banyak manusia yang pernah ada bersamaku, Kamu yang terang-terangan membuatku seperti anak kecil yang baru lahir kemarin sore. Aku menjadi anak kecil dihadapanmu. Sama seperti aku ketika ada di dekat ibu.
Aku ingin engkau tahu segalanya tentangku. Aku ingin engkau tahu mengapa aku seringkali melarangmu melakukan ini itu, melarangmu bercengkrama terlalu lama dengan manusia yang raganya sama sepertiku. Aku hanya takut kehilanganmu. Aku terlalu mencintaimu dengan luar biasa dan menyakitimu dengan mustahil. Kau kira aku menjauhkan diri darimu karena sayang terhapus begitu saja dari dada dan kepala? Kau kira begitu? Coba pikirkan sekali lagi mengapa aku seperti ini.
Kau masih ingat pertama kali ketika kau menerimaku yang kedua kali? Kau merasa kasihan denganku. Itu yang ku tahu dari ketikan tanganmu kepada seseorang anak manusia lain di luar sana. Dan aku juga percaya bahwa ketikan itu bukan semata-mata dari tangan saja. Tapi juga dari lubuk hatimu yang paling dalam. Aku terlalu berlebihan kepadamu. Aku terlalu memaksamu untuk tetap ada bersamaku sampai saat ini. Aku tahu bahwa, kau orang yang tidak pernah takut kehilangan orang yang sama sepertiku. Terlalu gampang untuk dijadikan sampah di pinggiran jalan bukan?
Aku sekarang sudah terlalu letih untuk melahirkan kembali gerimis di pipi. Bahkan ketika aku menulis semua ini, aku dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk membuka mata. Aku sekarang tidak baik-baik saja. Aku mencarimu di sudut-sudut semesta, di balik kenangan-kenangan, di antara gelapnya hati dan kepala, di antara muramnya awan-awan. Aku mau mencarimu sampai ketemu. Sampai kita masing-masing sembuh dari ego yang terlalu membatu di tubuh.
Aku mau menjadi bumi untuk mentarimu, lirik untuk lagumu, dan hujan untuk bungamu. Aku mau menyempurnakan segala kekuranganmu. Begitu pun kau. Menyempurnakan segala kekuranganku. Aku mau kita menjadi sepasang anak manusia yang saling menyempurnakan kekurangannya masing-masing.
Namunnn, semua itu terasa berbeda sekarang. Aku mulai menyadari semuanya. Menyadari bahwa menyayangimu adalah soal keikhlasan. Bukan keikhlasan untuk terus-menerus diberi harapan semu, melainkan keikhlasan untuk menyadari bahwa memang seharusnya kau berhak bahagia. Urusan apakah aku yang membuatmu bahagia atau bukan, itu tidak menjadi soal.
Aku harap hari ini kau baik-baik saja. Jangan risau. Jangan membuang-buang waktu memikirkan tentangku. Aku bahagia jika kau bahagia. Apapun pilihanmu untuk merasakan seperti itu aku akan ikhlas dan mau untuk siap mengorbankan diri.
Kita pernah dan sering merencanakan banyak hal satu sama lain. Menggebu-gebu seperti anak remaja yang baru mengenal rasa. Setiap hari ada saja yang diceritakan, dari segudang impian, hingga sebatas mengingatkan istirahat dan makan.
Diam-diam ternyata kita saling memendam rasa sakit. Menganga dan terus membesar. Yang menjadi landasan untuk bersama, kini menjadi alasan untuk berpisah. Wkwkwk jatuh cinta memang jenaka. Penuh dengan plot twist yang di luar nurul manusia itu sendiri.
Kita semestinya sadar, bahwa ita sebetulnya tidak merencanakan banyak hal, kita hanya sedang berandai-andai sampai lupa berpijak pada kenyataan, kenyataan yang kita tahu dari awal bahwa kau dan aku tidak berujung di rumah yang sama.
Kita memaksa berpelukan tanpa sadar bahwa kadang yang paling ingin kita peluk adalah yang paling menyakiti. Makin erat makin melukai.
Dilepas memang berat, tapi mungkin itu yang terbaik. Aku kembali berdoa dan terus berdoa hingga kemudian hari aku mengerti bahwa Tuhan tidak mau kita hancur berantakan, makanya dipisahkan di persimpangan jalan. Doa tentang jalan yang dimudahkan, berubah supaya hati dikuatkan karena kita masing-masing tahu jalannya sudah buntu.
Aku adalah penulis yang mengisahkan cerita ini, dan kita sudah tiba pada bab terakhir. Bab ini berisi tentang belajar untuk tidak lagi saling membalas sapa, tentang belajar untuk berhenti menyayangi, tentang belajar peduli yang tidak perlu lagi diperlihatkan. Itu dimulai dari dirimu sendiri yang tidak balas menyapaku.
Terima kasih sudah bertahun-tahun bertahan di tepian keangkuhan diri. Tak mau merespon lagi kalimat jawaban. Mungkin ini yang terbaik. Untuk apa juga kita saling menyiksa diri. Kembali untuk memperbaiki kesalahan dengan kembali untuk mengulangi kesalahan memang beda tipis. Aku tau kita tidak mau terjebak dalam euforia sesaat. Kau tetap menjadi yang terbaik yang pernah ku kenal pada semesta meskipun sering memberi lara dan luka.
Terima kasih.....
Nita, 17 Jan 25
Ehfrem Vyzty
Komentar
Posting Komentar