Langsung ke konten utama

Aku Berduka atas Matinya Kita


Aku Berduka
atas Matinya kita 


"Tuhann aku mengikhlaskan segala-galanya. Aku menerima luka-luka ini. Biarkan kau yang menjadi saksi atas kematian ku. Bawah aku ke tempat di mana seharusnya aku ada. Jaga mawar itu. Biarkan dia tetap mekar dengan indah dan anggun. Berikan ia tangkai yang tepat, tanpa duri, tanpa luka-luka, agar ia bisa bersandar dengan nyaman. Biarkan ia baik-baik saja."



Entah sudah berapa lama hujan deras mengguyur kota ini, aku dengan segala kegelisahan yang tidak pernah pergi masih setia berjaga. Aku bingung sendiri, perihal mengapa aku selalu saja seperti ini. Setiap kali hujan turun, aku mengalami suatu kondisi jiwa yang penuh dengan kegelisahan. Terlebih lagi ketika hujannya turun di malam hari yang seringkali menimbulkan suasana yang sedikit sensitif bagi kenangan marah-marah. 
Aku tetap memaksa mata untuk tutup segera. 

Namun, semakin aku memaksa mata untuk berhenti menatap, semakin aku menetap pada mata yang terus berjaga pada ketakutan. 

Bunyi suara hujan yang jatuh seperti peluru menembusi kulit para pujangga di medan pertempuran. Dentingannya seolah membawa kiamat bagi semesta. 

"Hujan? Apakah kau bisa menatapku? Mataku sudah memata-matai dukamu sampai selarut ini. Aku berhenti menjadi darah atas duri yang ditusuk mawar merah itu" gumamku

"Aku tertular duka itu" sambungku lagi.

Tak ada sahutan sama sekali setelah gumaman ku itu melengking ke langit-langit semesta. Aku sudah tidak banyak berharap lagi untuk bahagia saat ini. Kenangan-kenangan yang terkubur mulai bangkit satu persatu. Aku semakin terpinggirkan dari ruang yang telah memberiku nyawa sampai hari ini. Aku betul-betul sendiri. 

"Ahhhhhh.. aku sendirian. Aku sudah menyerupai semesta. Sendiri. Rapuhhh. Duka semakin bertakhta kuatt sekarang." Lanjutku

Aku sadar. Aku begitu banyak melahirkan sajak-sajak dengan dinding-dinding kesedihan. Aku terkena kutukan. Aku terlalu memaksa kenangan-kenangan berdiam di bawah tanah. Hujan membangunkannya. Aku dikutuk oleh kenangan-kenangan itu.


Setelah sekian lama bertarung dengan keadaan yang semakin waktu berlalu semakin erat memberi luka, aku menepi pada sunyi. Aku tidak lagi berharap banyak hal. Aku ingin mati. 

Tidak ada yang bisa ku lakukan bagi nyawa baik-baik saja sekarang. Ingin ditemani seperti dahulu kala. Ingin didengar oleh sesosok manusia. Ingin dipeluk erat-erat. 
Di satu sisi, aku sadar, aku sekarang bukan siapa-siapa. Aku karang di tengah lautan. Aku tidak ada siapa-siapa. Tidak punya apa-apa dan siapa-siapa sekarang. 

Aku membiarkan hujan masuk ke dalam diri. Aku membiarkannya menguras seluruh darah yang mengalir di dalamnya. 

Sewaktu-waktu, ketika aku tidak ada lagi. Aku hanya minta satu hal kepada semesta. Sampaikan seluruh kerinduanku pada mawar itu. Aku mengikhlaskan kepergiannya. Aku menerima segala duri dan hujan merobek nadi ini. Hanya dengan cara itu, dia akan tetap mekar dengan indah. Hanya dengan cara itu dia akan terlihat anggun di bawah langit semesta. 

Aku titip salam pada keabadian. Berikan yang terbaik bagi segala hal yang menjadi impiannya. Biarkan aku mati dengan tenang sekarang. Biarkan Tuhan mengizinkanku beristirahat dengan damai.

"Tuhann aku mengikhlaskan segala-galanya. Aku menerima luka-luka ini. Biarkan kau yang menjadi saksi atas kematian ku. Bawah aku ke tempat di mana seharusnya aku ada. Jaga mawar itu. Biarkan dia tetap mekar dengan indah dan anggun. Berikan ia tangkai yang tepat, tanpa duri, tanpa luka-luka, agar ia bisa bersandar dengan nyaman. Biarkan ia baik-baik saja."

Setelah berdoa demikian, di ujung malam yang penuh tangisan, penuh hujan, aku menghilang untuk selamanya. Aku pergi dengan berdarah-darah. Aku menghilang dengan membawa segala ketakutan, kegelisahan beserta kenangan-kenangan kita itu. 

Selamat berbahagia. 
Aku tetap berduka abadi atas matinya kita di bawah hujan....!




Ehfrem Vyzty

Nita, 27 Fbrry 25..

Komentar