"Hidup bukan tentang bagaimana agar tidak terluka. Namun, bagaimana caranya kita menyembuhkan luka"
Hidup dengan Luka
Ketika mendengar kata "luka", kita lebih mudah membayangkan luka fisik yang terjadi karena tertusuk duri, tergores benda tajam dan lain sebagainya. Pada saat luka itu terjadi, kita tentunya mengobati luka itu dengan obat merah, minyak gosok, atau langsung pergi ke tenaga medis jika memang lukanya lumayan parah. Berangkat dari itu, tidak bisa disangkal, kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa luka hanya terjadi pada fisik. Padahal ada luka yang sama parahnya dengan itu, yaitu luka "psikis".
Mendengar luka psikis seolah memancing kita untuk bernostalgia dengan kenangan yang pahit, sedih, hingga traumatis. Dalam hidup, manusia memiliki begitu banyak kenangannya masing-masing, dan kenangan-kenangan itu tercipta melalui perjalanan hidup yang ia lalui di semesta. Ada beberapa kenangan/pengalaman yang tidak pernah bisa ia lupakan dalam hidupnya. Pengalaman itu biasanya pengalaman yang paling indah dan pengalaman yang paling rapuh bagi dirinya selaku subjek dalam perjalanan hidupnya sendiri. Berdasarkan pengamatan penulis secara pribadi, kebanyakan orang berusaha untuk menyembunyikan luka itu dengan berpura-pura baik-baik saja tanpa memikirkan tekanan emosional yang ia pendam dalam diri. Mereka pikir dengan begitu, si luka akan menghilang secara perlahan. Nyatanya, luka itu tetap ada dengan menetap dalam tubuh tanpa disadari. Seperti yang dinyatakan oleh Freud sebagai traumatic reenactment atau repetition compulsion (Wolynn, M : 2017), yaitu ketika bagian bawah sadar memutar kembali urusan yang belum terselesaikan (unfinished business) supaya kita bisa segera memperbaikinya.
Mekanisme kerja bawah sadar ini pula yang membuat kita bisa mengulangi peristiwa luka yang belum terselesaikan dalam sebuah hubungan, tanpa kita ketahui dengan jelas bentuk lukanya seperti apa. Ada beberapa hal yang menandakan bahwa luka psikis masih tersimpan dalam diri kita. Hal pertama ialah reaksi tubuh yang tidak biasa terhadap suatu peristiwa. Reaksi tubuh seperti keringat dingin, jantung berdegup kencang, bayangan kabur, dan napas tersengal-sengal. Hal kedua ialah ketika kita terus menerus mengalami masalah dengan tema yang sama, tetapi belum benar-benar terselesaikan. Tanda lain yaitu ketika kita terus menerus terjebak dalam situasi, yang menghambat kita untuk melangkah lebih maju.
Self-Heaing
Self-healing, sebuah proses menyembuhkan/memulihkan diri dari luka psikis, dengan melibatkan kekuatan diri secara penuh, demi mencapai kepribadian yang utuh. Kepribadian yang utuh adalah ketika seseorang mampu menerima kekurangan serta luka dalam diri, dan tetap produktif dengan melibatkan kelebihan yang ia miliki. Dengan kata lain, self-healing adalah perjalanan seseorang untuk keluar dari penderitaan yang dimilikinya (Egnew T. R : 2005).
Perjalanan ini merupakan perjalanan sepanjang hidup, yang berarti tidak ada waktu baku untuk bisa menentukan seseorang telah pulih. Apabila kita merasa sudah selesai dengan satu urusan, maka bisa saja muncul urusan lain yang membuat kita kembali tidak nyaman. Begitulah ritme kehidupan yang terus berjalan dengan urusan yang timbul tenggelam tanpa pernah usai. Dengan begitu pula, self-healing bukan proses yang hanya sekali dilakukan, tetapi akan terus kita lalui selama kita masih hidup. Melalui self-healing, kita bisa menjadi pribadi dengan fleksibilitas emosi dalam menghadapi setiap situasi. Kita tidak akan lagi terjebak dalam satu emosi yang menghambat diri untuk berkembang. Kita tidak lagi menemui peristiwa yang sama secara berulang. Self-healing membuat kita merasa bahwa kita adalah orang yang layak dicintai, dengan mengizinkan diri menerima cinta dari orang lain (Goldsmith, B : 2019). Kita menjadi pribadi yang bisa merasakan kedamaian dalam perjalanan hidup, sekalipun ada luka psikis yang pernah hadir. Perjalanan memulihkan diri, meyakinkan diri bahwa kita semua memiliki potensi untuk bisa pulih dari luka psikis masing-masing. Kita memiliki perjalanan yang berbeda-beda dengan jangka waktu yang tidak bisa ditentukan antara satu individu dengan individu lainnya. Self-healing membutuhkan keberanian diri untuk menemui luka psikis yang masih tersimpan dalam diri. Kemudian memproses, menerima, hingga akhirnya kita bisa menyatakan pada diri kita bahwa:
"lukaku cukup sampai di sini. Maafkan saya. Saya telah mengabaikan anda selama ini. Terima kasih telah hadir dalam hidup saya untuk mengajariku banyak hal tentang penerimaan dan kebijaksanaan. Sekarang, aku menerimamu sebagai bagian dari hidupku. Aku melepasmu sebagai tanda bahwa aku telah memaafkan diriku sendiri."
"Ehfrem Vyzty; refleksi perjalanan luka dalam diri ÷ selama 3 tahun.
Nita, 6 Sep 25

Komentar
Posting Komentar