Langsung ke konten utama

Postingan

Self Healing: Proses Berdamai dengan Luka dalam Diri

  " Hidup bukan tentang bagaimana agar tidak terluka. Namun, bagaimana caranya kita menyembuhkan luka "     Hidup dengan Luka            Ketika mendengar kata "luka", kita lebih mudah membayangkan luka fisik yang terjadi karena tertusuk duri, tergores benda tajam dan lain sebagainya. Pada saat luka itu terjadi, kita tentunya mengobati luka itu dengan obat merah, minyak gosok, atau langsung pergi ke tenaga medis jika memang lukanya lumayan parah. Berangkat dari itu, tidak bisa disangkal, kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa luka hanya terjadi pada fisik. Padahal ada luka yang sama parahnya dengan itu, yaitu luka "psikis".       Mendengar luka psikis seolah memancing kita untuk bernostalgia dengan kenangan yang pahit, sedih, hingga traumatis. Dalam hidup, manusia memiliki begitu banyak kenangannya masing-masing, dan kenangan-kenangan itu tercipta melalui perjalanan hidup yang ia lalui di semesta. Ada beberapa kenangan/pengalam...
Postingan terbaru

Aku Berduka atas Matinya Kita

Aku Berduka atas Matinya kita  "Tuhann aku mengikhlaskan segala-galanya. Aku menerima luka-luka ini. Biarkan kau yang menjadi saksi atas kematian ku. Bawah aku ke tempat di mana seharusnya aku ada. Jaga mawar itu. Biarkan dia tetap mekar dengan indah dan anggun. Berikan ia tangkai yang tepat, tanpa duri, tanpa luka-luka, agar ia bisa bersandar dengan nyaman. Biarkan ia baik-baik saja. " Entah sudah berapa lama hujan deras mengguyur kota ini, aku dengan segala kegelisahan yang tidak pernah pergi masih setia berjaga. Aku bingung sendiri, perihal mengapa aku selalu saja seperti ini. Setiap kali hujan turun, aku mengalami suatu kondisi jiwa yang penuh dengan kegelisahan. Terlebih lagi ketika hujannya turun di malam hari yang seringkali menimbulkan suasana yang sedikit sensitif bagi kenangan marah-marah.  Aku tetap memaksa mata untuk tutup segera.  Namun, semakin aku memaksa mata untuk berhenti menatap, semakin aku menetap pada mata yang terus berjaga pada ketakuta...

Sepasang Manusia yang Saling Memberi Luka

Sepasang Manusia  yang Saling Memberi Luka  " Aku mau bercerita banyak tentang kita kepada Tuhan dalam doa-doa sayang. Aku mau bercerita bahwa aku belum pernah seperti ini sebelumnya. Aku mau bercerita bagaimana hari-hariku tanpa kamu. Namun aku merasa aku tidak sendiri. Aku memiliki kamu. Aku mencintaimu sampai saat ini. Merindukanmu sampai gerimis kering sendiri di pipi. Bolehkah aku mencintaimu sampai nadi tak berdenyut lagi atas nama Tuhanku?" Waktu sudah beranjak menuju hari baru. Aku masih menyendiri menahan getaran kangen yang semakin hari semakin subur saja tumbuh di jiwa. Sepertinya kangen tak sungkan-sungkan mengekangku dalam kenangan kita. Malam seperti ini, aku rajin menanam harap pada Tuhan. Termasuk berharap kau mengerti dengan arti diamku.  Ini malam yang kesekian kalinya aku meneguk beberapa gelas air mata sendiri. Jangan tanya mengapa aku begitu, jangan tanya mengapa aku beku, jangan tanya mengapa aku menjelma batu. Kau sudah tahu itu. Dari se...

Kita akhirnya Sendiri Semua yang Kita Cinta Sepenuhnya Hilang dan Pergi

Kita akhirnya Sendiri Semua yang Kita Cinta Sepenuhnya Hilang dan Pergi Aku tidak mengerti sampai sekarang. Bahwa yang ku pegang erat-erat kemarin hanyalah angan-angan belaka. Harapan yang ku peluk ternyata sepelik ini. Rasanya baru kemarin dimulai dan sekarang sudah selesai begitu saja. Berat sekali untuk menerima segalanya. Sulit sekali untuk melupakan semuanya. Aku pernah berpikir bahwa sosok yang ada bersamaku di hari lalu, akan ada dan terus ada bersamaku selamanya. Ternyata bukan itu yang terjadi. Benar-benar susah untuk dijelaskan sedetail mungkin pada tulisan ini. Hanya mau mengatakan bahwa aku masih merasakan perasaan yang sama kepadanya. Dan perasaan itu sulit untuk dibungkam dalam diri. Rindu, sayang, segalanya. Tangisanku menghiasi malam itu. Memecahkan bekunya semesta. Aliran kekecewaan terhadap keputusan yang telah kau ambil membara dalam diri. Bisa-bisanya kau memutuskan pergi dari masalah yang datang. Bisa-bisanya kau lari dariku di saat aku terpuruk oleh keadaan yang m...

Max Manusia Tabah Kuat Seperti Baja-baja

Max Manusia Tabah Kuat Seperti Baja-baja Suatu pengalaman paling menyedihkan. Menggetardebarkan seisi jiwa dengan isakan tangis  pelik.  Max, demikian namanya. Nama yang disematkan oleh ayah bundanya ketika masih belum cukup disebut sebagai bayi, dalam artian masih dalam kandungan raga sang bunda.  Max terlahir dari keluarga yang penuh kesederhanaan hidup. Segala sesuatu yang diinginkan harus terpendam jauh ke dasar hati yang paling bisu.  Semasa ia sudah cukup disebut sebagai anak-anak, Max tidak seperti anak-anak lain seusianya. Apa yang diinginkan bisa segera dipenuhi oleh orang tuanya.  Di usia yang masih tergolong belia itu, ia dengan gagah berjalan mendampingi ayahnya pergi mencangkul bulan di antara petak-petak sawah yang berjejer rapi di bawah bukit paling jauh dari tempat ia tidur dan terlelap melepas lelah di malam hari. Kadang-kadang, ia dan ayahnya tidur di bawah bukit itu saja kalau badan sudah tak mau lagi berdamai dengan nyala api yang masih memba...