Langsung ke konten utama

Kita akhirnya Sendiri Semua yang Kita Cinta Sepenuhnya Hilang dan Pergi



Kita akhirnya Sendiri
Semua yang Kita Cinta
Sepenuhnya Hilang dan Pergi




Aku tidak mengerti sampai sekarang. Bahwa yang ku pegang erat-erat kemarin hanyalah angan-angan belaka. Harapan yang ku peluk ternyata sepelik ini. Rasanya baru kemarin dimulai dan sekarang sudah selesai begitu saja. Berat sekali untuk menerima segalanya. Sulit sekali untuk melupakan semuanya.

Aku pernah berpikir bahwa sosok yang ada bersamaku di hari lalu, akan ada dan terus ada bersamaku selamanya. Ternyata bukan itu yang terjadi. Benar-benar susah untuk dijelaskan sedetail mungkin pada tulisan ini. Hanya mau mengatakan bahwa aku masih merasakan perasaan yang sama kepadanya. Dan perasaan itu sulit untuk dibungkam dalam diri. Rindu, sayang, segalanya.

Tangisanku menghiasi malam itu. Memecahkan bekunya semesta. Aliran kekecewaan terhadap keputusan yang telah kau ambil membara dalam diri. Bisa-bisanya kau memutuskan pergi dari masalah yang datang. Bisa-bisanya kau lari dariku di saat aku terpuruk oleh keadaan yang membelenggu jiwa dan raga. 

Masihkah kau ingat pertama kali aku mengajakmu keluar rumah?
Pertama kali bibir kita beradu pada masing-masing pipi? Pertama kali tubuh kita saling merangkul dan tak mau lepas seusai pulang misa di hari minggu? 
Pertama kali aku mengenal dengan ayah bundamu di depan matamu sendiri?

Masihkah kau ingat dengan jelas semuanya? 

Aku ingin pergi. Entah kemanapun itu. Yang terpenting aku tidak ingin tinggal di tempat di mana aku sering meluangkan waktu bersamamu di hari lalu. Aku ingin menghilang saja dari bumi. Menghilang dari pandangan matamu yang selalu membuatku sulit memejamkan mata. 

Aku benci dengan kenyataan yang sekarang ku jalani. Kenyataan yang sekarang ku terima dari sang Pencipta. Meskipun saya percaya bahwa pertemuan kita pertama kali bukan semata-mata karena kebetulan. Tapi di balik itu, ada campur tangan Tuhan. Tuhanlah yang memberiku kesempatan istimewa untuk mengenal denganmu. Tak tanggung-tanggung aku sampai segitunya kepadamu. Menganggapmu terlalu sempurna melampaui batas-batas waktu. Bahkan aku seringkali mengabaikan diri sendiri hanya karena aku berpikir kau terlalu penting untukku. Dan itu nyata, aku sempat beberapa kali jatuh sakit karena beberapa hal yang ku korbankan karena dirimu. Sampai-sampai harus sempat keluar masuk rumah sakit, hingga harus operasi di bagian tubuh yang sedikit sensitif. Bukannya mau mengkalkulasi, hanya saja saya perlu mengatakan itu semua biar kau tahu bahwa aku mencintaimu melebihi aku mencintai diri sendiri. Hubungan yang saya kira sangat istimewa ini sudah cukup membuatku banyak melahirkan pemahaman-pemahaman baru tentang segala sesuatu di sekitar saya. Mulai dari yang ku anggap sepele sampai pada yang paling penting setinggi langit. Titik tertinggi di mana aku menganggap kau adalah orang yang paling tepat untuk menemaniku melanjutkan hidup sampai usia menua yaitu ketika aku melahirkan buku "Melukismu Dalam Aksara". Tulisan yang tertera dalam setiap lembaran buku perdana itu kebanyakan membicarakan bagaimana nyatanya cintaku kepadamu. Bagaimana sayangku kepadamu. Bagaimana aku memperkenalkan wanita paling cantik di bawah cakrawala ini kepada semua orang lebih tepatnya kepada pembaca. 

Aneh sekali, yang ada dalam hati sama sekali tidak pergi-pergi. Aku terus-terusan menginginkan hadirmu di setiap ruang hidupku. Merindukanmu masih menggebu-gebu. Menyayangimu malah bertambah kuat seumpama pelangi kepada hujan. Mencintaimu masih melampaui luasnya langit-langit semesta. Berkali-kali sudah kau membuat hatiku patah sampai remuk redam, aku tetap mencintaimu tanpa alasan menyulam. 

Karena semua itu, aku tidak pernah menginginkan kau terdampar pada keterpurukan. Terdampar pada kondisi raga yang sakit karena lelah. Itu makanya aku tidak berhenti mendoakan keselamatanmu, wanita yang ku anggap paling cantik sebumi. Caraku untuk menunjukkan semua itu mungkin sedikit berbeda. Kau anggap itu membuatmu merasa tidak nyaman. Membuatmu merasa terganggu. 

Hingga di suatu waktu yang tidak kuduga, kita masing-masing memulai pertengkaran hebat. Debat sana sini mulai mengisi kolom chat di WhatsApp. Meskipun sudah berulangkali aku menjelaskan bahwa caraku mencintaimu memang seperti itu. Aku terlalu takut kehilanganmu sampai beberapa hal yang ku anggap tidak baik bagimu tidak pantas untuk kau lalui. Dan aku tersadar bahwa yang kau tidak suka yaitu caraku mencintaimu seperti itu. 

Aku pernah berjanji bahwa siapapun yang menyakitimu akan berhadapan dengan kepergian. Ternyata itu adalah aku sendiri. Aku harus pergi. Aku harus memenuhi apa yang pernah ku bilang kepadamu. 

Alhasil, aku sedikit susah melaluinya. Aku sangat berat melupakan semua yang pernah terjadi antara kita. Hingga di suatu malam yang tak ku duga, aku kembali mengabarimu. Menjelaskan tentang semua apa yang ku rasa. Aku kembali menangis kala itu, dan kau juga ku dengar tersedu-sedu sama sepertiku. Aku merasa bersalah sekali. Aku merasa kecewa dengan diri sendiri membuatmu harus seperti itu. Dari kejadian yang menimpa kita, aku meminta maaf atas semuanya. Meskipun aku juga menyadari bahwa ini bukan sepenuhnya kesalahanku. Tapi, aku merasa bahwa ini adalah suatu tanggung jawab atas keputusan yang telah ku ambil beberapa tahun silam untuk mengajakmu berkelana bersamaku melewati waktu, melewati warna-warni hari, hingga mengusir sepi bersama. 

Aku mencoba untuk perbaiki semuanya, meskipun aku menyadari bahwa "ini bukan sepenuhnya kesalahanku buat kita seperti ini". Namun, kau cukup keras kepala. Dan kau memutuskan untuk tidak lagi seperti dahulu kala. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku terluka sedalam-dalamnya. Aku kembali dengan diri sendiri tanpa kepastian kita bersama lagi. 

Di ujung malam yang sebentar lagi pagi memberi diri pada semesta, air mataku baru berhenti mengalir. Aku buru-buru mengelap sisa air kesedihan yang meleleh bak lilin sehabis di bakar pada mata. Setelah itu, aku pergi mendaki gunung dekat rumah tempatku tinggal. Aku bertemu berbagai macam keindahan yang belum ku temu selama bersamamu. Dak aku mengerti bahwa aku telah dibutakan oleh persepsi bahwa hanya kau yang indah di semesta ini. Padahal aku hanya terkurung oleh rasa yang sedalam itu. Aku berjanji bahwa aku akan memenuhi dua hal yang kau minta. Aku akan ikhlas menerima dan melepas pergi semuanya dan aku akan menunggu kepulanganmu sampai kau benar-benar merasa diri sudah cukup membaik. 

Di akhir kata, saya ucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya dan terima kasih selimpah-limpahnya untuk semua yang pernah terjadi.

Salam hangat. Salam literasi.
Salam rindu.




Ehfrem Vyzty

Lwr, 25 Sep 24 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Berduka atas Matinya Kita

Aku Berduka atas Matinya kita  "Tuhann aku mengikhlaskan segala-galanya. Aku menerima luka-luka ini. Biarkan kau yang menjadi saksi atas kematian ku. Bawah aku ke tempat di mana seharusnya aku ada. Jaga mawar itu. Biarkan dia tetap mekar dengan indah dan anggun. Berikan ia tangkai yang tepat, tanpa duri, tanpa luka-luka, agar ia bisa bersandar dengan nyaman. Biarkan ia baik-baik saja. " Entah sudah berapa lama hujan deras mengguyur kota ini, aku dengan segala kegelisahan yang tidak pernah pergi masih setia berjaga. Aku bingung sendiri, perihal mengapa aku selalu saja seperti ini. Setiap kali hujan turun, aku mengalami suatu kondisi jiwa yang penuh dengan kegelisahan. Terlebih lagi ketika hujannya turun di malam hari yang seringkali menimbulkan suasana yang sedikit sensitif bagi kenangan marah-marah.  Aku tetap memaksa mata untuk tutup segera.  Namun, semakin aku memaksa mata untuk berhenti menatap, semakin aku menetap pada mata yang terus berjaga pada ketakuta...

Self Healing: Proses Berdamai dengan Luka dalam Diri

  " Hidup bukan tentang bagaimana agar tidak terluka. Namun, bagaimana caranya kita menyembuhkan luka "     Hidup dengan Luka            Ketika mendengar kata "luka", kita lebih mudah membayangkan luka fisik yang terjadi karena tertusuk duri, tergores benda tajam dan lain sebagainya. Pada saat luka itu terjadi, kita tentunya mengobati luka itu dengan obat merah, minyak gosok, atau langsung pergi ke tenaga medis jika memang lukanya lumayan parah. Berangkat dari itu, tidak bisa disangkal, kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa luka hanya terjadi pada fisik. Padahal ada luka yang sama parahnya dengan itu, yaitu luka "psikis".       Mendengar luka psikis seolah memancing kita untuk bernostalgia dengan kenangan yang pahit, sedih, hingga traumatis. Dalam hidup, manusia memiliki begitu banyak kenangannya masing-masing, dan kenangan-kenangan itu tercipta melalui perjalanan hidup yang ia lalui di semesta. Ada beberapa kenangan/pengalam...

Sepasang Manusia yang Saling Memberi Luka

Sepasang Manusia  yang Saling Memberi Luka  " Aku mau bercerita banyak tentang kita kepada Tuhan dalam doa-doa sayang. Aku mau bercerita bahwa aku belum pernah seperti ini sebelumnya. Aku mau bercerita bagaimana hari-hariku tanpa kamu. Namun aku merasa aku tidak sendiri. Aku memiliki kamu. Aku mencintaimu sampai saat ini. Merindukanmu sampai gerimis kering sendiri di pipi. Bolehkah aku mencintaimu sampai nadi tak berdenyut lagi atas nama Tuhanku?" Waktu sudah beranjak menuju hari baru. Aku masih menyendiri menahan getaran kangen yang semakin hari semakin subur saja tumbuh di jiwa. Sepertinya kangen tak sungkan-sungkan mengekangku dalam kenangan kita. Malam seperti ini, aku rajin menanam harap pada Tuhan. Termasuk berharap kau mengerti dengan arti diamku.  Ini malam yang kesekian kalinya aku meneguk beberapa gelas air mata sendiri. Jangan tanya mengapa aku begitu, jangan tanya mengapa aku beku, jangan tanya mengapa aku menjelma batu. Kau sudah tahu itu. Dari se...