Langsung ke konten utama

Coretan Kenangan Bersama Mu

Sepanjang perjalanan hidupku, semuanya membutuhkan waktu. Tidak akan pernah ada pertemuan dan perpisahan kalau saja waktu tidak ada. Sebab waktu adalah bagian dari alur kehidupan ini. Aku tak pernah berpikir secepat ini engkau melepaskanku untuk pergi, meskipun aku sendiri menolak untuk pergi. Aku tahu dan sadar bahwa ini semua demi masa depan dan tujuan hidupku ini. Hari-hari bersamamu, merupakan momen yang paling berharga bagi diriku. Sampai-sampai bila mengingatnya kembali aku menitikkan air mata. Aku masih ingat di saat aku dan kamu menembusi malam yang dingin bersama. Kala itu kita melewati malam dengan mengendarai sepeda motor tua milik bapak. Awalnya aku sempat mengeluh kedinginan, sebab angin malam itu membelai sebagian ragaku seperti bayi yang baru lahir. Tetapi ketika di saat engkau memeluk tubuhku  dan menyandarkan kepalamu di bahuku, 
tiba-tiba aku merasakan kehangatan dan kedamaian yang luar biasa menyelinap masuk ke dalam hati kecilku ini. Cahaya bintang malam itu rupanya sangat cerah, secerah hatiku dalam pelukanmu. Cahaya bintang itu juga memberikan terang pada setiap lorong gelap jalan yang kita lalui.
Bulan yang biasanya muram seakan-akan mengerti pada kau dan aku yang menjadikan kata kita. Dia seolah tersenyum padaku dan mengerti dengan apa yang sedang kurasakan saat itu. Segala yang pernah kita lewati sengaja aku coretkan pada lembar putih ini sebagai tanda betapa sucinya cintaku pada dirimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Berduka atas Matinya Kita

Aku Berduka atas Matinya kita  "Tuhann aku mengikhlaskan segala-galanya. Aku menerima luka-luka ini. Biarkan kau yang menjadi saksi atas kematian ku. Bawah aku ke tempat di mana seharusnya aku ada. Jaga mawar itu. Biarkan dia tetap mekar dengan indah dan anggun. Berikan ia tangkai yang tepat, tanpa duri, tanpa luka-luka, agar ia bisa bersandar dengan nyaman. Biarkan ia baik-baik saja. " Entah sudah berapa lama hujan deras mengguyur kota ini, aku dengan segala kegelisahan yang tidak pernah pergi masih setia berjaga. Aku bingung sendiri, perihal mengapa aku selalu saja seperti ini. Setiap kali hujan turun, aku mengalami suatu kondisi jiwa yang penuh dengan kegelisahan. Terlebih lagi ketika hujannya turun di malam hari yang seringkali menimbulkan suasana yang sedikit sensitif bagi kenangan marah-marah.  Aku tetap memaksa mata untuk tutup segera.  Namun, semakin aku memaksa mata untuk berhenti menatap, semakin aku menetap pada mata yang terus berjaga pada ketakuta...

Self Healing: Proses Berdamai dengan Luka dalam Diri

  " Hidup bukan tentang bagaimana agar tidak terluka. Namun, bagaimana caranya kita menyembuhkan luka "     Hidup dengan Luka            Ketika mendengar kata "luka", kita lebih mudah membayangkan luka fisik yang terjadi karena tertusuk duri, tergores benda tajam dan lain sebagainya. Pada saat luka itu terjadi, kita tentunya mengobati luka itu dengan obat merah, minyak gosok, atau langsung pergi ke tenaga medis jika memang lukanya lumayan parah. Berangkat dari itu, tidak bisa disangkal, kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa luka hanya terjadi pada fisik. Padahal ada luka yang sama parahnya dengan itu, yaitu luka "psikis".       Mendengar luka psikis seolah memancing kita untuk bernostalgia dengan kenangan yang pahit, sedih, hingga traumatis. Dalam hidup, manusia memiliki begitu banyak kenangannya masing-masing, dan kenangan-kenangan itu tercipta melalui perjalanan hidup yang ia lalui di semesta. Ada beberapa kenangan/pengalam...

Sepasang Manusia yang Saling Memberi Luka

Sepasang Manusia  yang Saling Memberi Luka  " Aku mau bercerita banyak tentang kita kepada Tuhan dalam doa-doa sayang. Aku mau bercerita bahwa aku belum pernah seperti ini sebelumnya. Aku mau bercerita bagaimana hari-hariku tanpa kamu. Namun aku merasa aku tidak sendiri. Aku memiliki kamu. Aku mencintaimu sampai saat ini. Merindukanmu sampai gerimis kering sendiri di pipi. Bolehkah aku mencintaimu sampai nadi tak berdenyut lagi atas nama Tuhanku?" Waktu sudah beranjak menuju hari baru. Aku masih menyendiri menahan getaran kangen yang semakin hari semakin subur saja tumbuh di jiwa. Sepertinya kangen tak sungkan-sungkan mengekangku dalam kenangan kita. Malam seperti ini, aku rajin menanam harap pada Tuhan. Termasuk berharap kau mengerti dengan arti diamku.  Ini malam yang kesekian kalinya aku meneguk beberapa gelas air mata sendiri. Jangan tanya mengapa aku begitu, jangan tanya mengapa aku beku, jangan tanya mengapa aku menjelma batu. Kau sudah tahu itu. Dari se...