Langsung ke konten utama

URGENSITAS PENDIDIKAN KARAKTER BAGI REMAJA DI TENGAH ARUS MODERNISASI



URGENSITAS PENDIDIKAN KARAKTER BAGI REMAJA DI TENGAH ARUS MODERNISASI

Oleh: Efrem Vyzty

      Remaja adalah masa peralihan antara masa anak-anak dan masa dewasa. Bagi perempuan masa remaja berkisar antara umur 13-17 tahun, sedangkan bagi laki-laki berkisar antara umur 14-17 tahun. Masa remaja merupakan masa di mana seseorang akan mencari jati diri yang sesungguhnya. Karena itu, sangatlah urgen jika eksistensi pendidikan karakter ditanamkan sejak dini dalam diri seorang remaja di tengah arus modernisasi sekarang ini, supaya mereka bisa menemukan jati diri mereka ke arah yang positif.
       Di era modernisasi saat ini, remaja dituntut untuk fleksibel terhadap perubahan. Remaja harus bijaksana dalam memilih dan memilah sesuatu yang baik dari perubahan-perubahan yang terjadi bagi masa depan hidupnya. Tidak jarang ada begitu banyak remaja yang terjerumus ke dalam berbagai bentuk sisi gelap dari modernisasi seperti, adanya tawuran antar pelajar, miras, adanya kelompok geng motor, bolos dari sekolah dan lain sebagainya. Karena itu, hal yang harus diperhatikan adalah karakter dan moral harus ditanamkan secara mendalam pada diri seorang remaja.
        Hemat saya, pendidikan adalah suatu proses kehidupan, karena setiap sisi kehidupan pastilah mempunyai korelasi yang erat dengan pendidikan itu sendiri. Pendidikan dapat membantu anak didik supaya berkembang menjadi manusia yang utuh, sempurna dan juga bahagia. Terlepas dari berbagai fenomena-fenomena yang terjadi dalam diri remaja karena arus modernisasi ini, maka pemerintah pun turut campur tangan dalam memberikan kontribusi pembentukan karakter bagi remaja. Presiden Ir. Joko Widodo melihat hal ini sebagai suatu tantangan bagi masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka ia mengeluarkan aturan tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) bagi para remaja ataupun pelajar, Perpres No. 87/Tahun 2017. Beliau menegaskan supaya pendidikan karakter menjadi fondasi fundamental hukum pemerintah di tingkat pusat dan daerah. Pasal 1 ayat 1 ditekankan terkait dengan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan bagian dari gerakan nasional yang revolusi mental (GNRM) dengan tujuan membangun dan memberkati anak bangsa menjadi generasi emas berjiwa pancasilais dan berkarakter baik. Sebab ia berpikir bahwa melalui pendidikan karakter para remaja ataupun pelajar bisa menghayati nilai-nilai Pancasila seperti religius, toleransi, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, cinta tanah air, cinta damai, dan peduli serta bertanggung jawab.
       Oleh karena itu, remaja ataupun pelajar mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita tidak hanya memandang remaja itu sebagai proses perubahan usia dari kanak-kanak menuju usia dewasa atau dalam artian biologis. Presiden Ir. Joko Widodo mengajak para kaum muda dalam artian para pelajar sekaligus remaja supaya belajar bela negara dengan cara menghindari diri dari sisi gelap modernisasi seperti, mengkonsumsi narkoba, tidak mengakses konten yang berbau pornografi dan lain sebagainya.
       Berkaca pada kenyataan ini, penulis dapat berasumsi bahwa membangun kepribadian seorang manusia ke arah yang baik itu ibarat membangun rumah di atas dasar batu (Tidak mudah tumbang ataupun runtuh ketika terjadi suatu bencana). Begitupun halnya membentuk kepribadian seorang manusia (remaja), dasarnya adalah pendidikan karakter. Supaya para pelajar ataupun remaja tidak mudah terjerumus ke hal yang negatif dalam berhadapan dengan bahayanya arus modernisasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Berduka atas Matinya Kita

Aku Berduka atas Matinya kita  "Tuhann aku mengikhlaskan segala-galanya. Aku menerima luka-luka ini. Biarkan kau yang menjadi saksi atas kematian ku. Bawah aku ke tempat di mana seharusnya aku ada. Jaga mawar itu. Biarkan dia tetap mekar dengan indah dan anggun. Berikan ia tangkai yang tepat, tanpa duri, tanpa luka-luka, agar ia bisa bersandar dengan nyaman. Biarkan ia baik-baik saja. " Entah sudah berapa lama hujan deras mengguyur kota ini, aku dengan segala kegelisahan yang tidak pernah pergi masih setia berjaga. Aku bingung sendiri, perihal mengapa aku selalu saja seperti ini. Setiap kali hujan turun, aku mengalami suatu kondisi jiwa yang penuh dengan kegelisahan. Terlebih lagi ketika hujannya turun di malam hari yang seringkali menimbulkan suasana yang sedikit sensitif bagi kenangan marah-marah.  Aku tetap memaksa mata untuk tutup segera.  Namun, semakin aku memaksa mata untuk berhenti menatap, semakin aku menetap pada mata yang terus berjaga pada ketakuta...

Self Healing: Proses Berdamai dengan Luka dalam Diri

  " Hidup bukan tentang bagaimana agar tidak terluka. Namun, bagaimana caranya kita menyembuhkan luka "     Hidup dengan Luka            Ketika mendengar kata "luka", kita lebih mudah membayangkan luka fisik yang terjadi karena tertusuk duri, tergores benda tajam dan lain sebagainya. Pada saat luka itu terjadi, kita tentunya mengobati luka itu dengan obat merah, minyak gosok, atau langsung pergi ke tenaga medis jika memang lukanya lumayan parah. Berangkat dari itu, tidak bisa disangkal, kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa luka hanya terjadi pada fisik. Padahal ada luka yang sama parahnya dengan itu, yaitu luka "psikis".       Mendengar luka psikis seolah memancing kita untuk bernostalgia dengan kenangan yang pahit, sedih, hingga traumatis. Dalam hidup, manusia memiliki begitu banyak kenangannya masing-masing, dan kenangan-kenangan itu tercipta melalui perjalanan hidup yang ia lalui di semesta. Ada beberapa kenangan/pengalam...

Sepasang Manusia yang Saling Memberi Luka

Sepasang Manusia  yang Saling Memberi Luka  " Aku mau bercerita banyak tentang kita kepada Tuhan dalam doa-doa sayang. Aku mau bercerita bahwa aku belum pernah seperti ini sebelumnya. Aku mau bercerita bagaimana hari-hariku tanpa kamu. Namun aku merasa aku tidak sendiri. Aku memiliki kamu. Aku mencintaimu sampai saat ini. Merindukanmu sampai gerimis kering sendiri di pipi. Bolehkah aku mencintaimu sampai nadi tak berdenyut lagi atas nama Tuhanku?" Waktu sudah beranjak menuju hari baru. Aku masih menyendiri menahan getaran kangen yang semakin hari semakin subur saja tumbuh di jiwa. Sepertinya kangen tak sungkan-sungkan mengekangku dalam kenangan kita. Malam seperti ini, aku rajin menanam harap pada Tuhan. Termasuk berharap kau mengerti dengan arti diamku.  Ini malam yang kesekian kalinya aku meneguk beberapa gelas air mata sendiri. Jangan tanya mengapa aku begitu, jangan tanya mengapa aku beku, jangan tanya mengapa aku menjelma batu. Kau sudah tahu itu. Dari se...